KARAWANG, – Di tengah berbagai regulasi yang mendorong terciptanya ruang terbuka hijau, langkah nyata sering kali menjadi tantangan tersendiri. Namun, semangat itulah yang coba diwujudkan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Singaperbangsa Karawang (Mapalaska) melalui kegiatan penanaman bibit pohon dan seminar lingkungan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Kampus 2 Unsika, Senin 15 Juni 2026. 

Kegiatan yang mengusung tema “Aksi Nyata, Bumi Terjaga” tersebut bukan sekadar seremoni tahunan. Di balik penanaman pohon yang dilakukan bersama civitas akademika dan para pemangku kepentingan, tersimpan pesan penting tentang tanggung jawab menjaga keseimbangan lingkungan di kawasan pendidikan.

Ketua Adat Mapalaska, Lukman, menuturkan bahwa organisasi yang bergerak di bidang kepecintaalaman dan konservasi itu ingin menunjukkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup hanya disampaikan melalui diskusi atau tuntutan semata.

Menurutnya, keberadaan regulasi pemerintah yang mengatur pentingnya ruang terbuka hijau harus direspons dengan tindakan konkret di lapangan. Salah satunya melalui kegiatan penghijauan yang dilakukan di lingkungan kampus.

Dalam sambutannya, Lukman menyinggung Peraturan Menteri ATR/BPN Nomor 14 Tahun 2022 serta berbagai pedoman pembangunan fasilitas pendidikan yang mendorong penyediaan ruang terbuka sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem.

Bagi Mapalaska, aturan tersebut bukan hanya menjadi dokumen administratif, melainkan landasan moral untuk ikut berkontribusi menjaga lingkungan kampus. Karena itu, organisasi mahasiswa pecinta alam tersebut memilih mengambil peran melalui aksi penghijauan yang melibatkan berbagai pihak.

“Mapalaska hadir bukan hanya untuk menyampaikan aspirasi, tetapi juga membawa langkah konkret. Kami ingin mengajak semua pihak untuk bersama-sama berpartisipasi dalam menjaga dan menghijaukan kampus,” ujar Lukman.

Kegiatan itu dibuka langsung oleh Rektor Unsika, Prof. Ade Maman Suherman, S.H., M.Sc. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi inisiatif yang dilakukan Mapalaska sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan.

Menurutnya, menanam pohon bukan sekadar kegiatan simbolis, melainkan investasi jangka panjang yang manfaatnya akan dirasakan generasi mendatang.

“Yang paling penting adalah keberlanjutannya. Mereka yang menanam hari ini, suatu saat bisa melihat pohon-pohon tersebut tumbuh besar dan memberikan manfaat lima hingga sepuluh tahun ke depan,” ujarnya.

Prof. Ade juga menegaskan bahwa Kampus 2 Unsika memiliki area yang cukup luas untuk mendukung program penghijauan dan pengembangan ruang terbuka hijau di masa mendatang.

Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang setiap tahun diperingati pada 5 Juni pun menjadi pengingat bahwa upaya menjaga bumi tidak cukup berhenti pada slogan. Di tengah ancaman perubahan iklim dan berkurangnya ruang hijau, aksi sederhana seperti menanam pohon menjadi langkah kecil yang memiliki dampak besar.

Melalui kegiatan tersebut, Mapalaska berupaya menerjemahkan semangat regulasi menjadi gerakan nyata. Sebab pada akhirnya, keberhasilan menjaga lingkungan tidak hanya ditentukan oleh aturan yang tertulis, tetapi juga oleh kesediaan setiap pihak untuk mengambil bagian dalam mewujudkannya. (*)