Karawang,– Mahkota Binokasih Sanghyang Pake diarak menggunakan kereta kencana dalam Kirab Budaya Sunda Napak Tilas Pajajaran di Karawang, Sabtu, 9 Mei 2026. Kirab budaya ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi Tatar Sunda yang akan diperingati pada 18 Mei mendatang.
Kirab budaya sunda dijadwalkan sembilan hari. Perjalanan dimulai dari Keraton Sumedang Larang, Kabupaten Sumedang, pada Sabtu, 2 Mei 2026, lalu melintasi sejumlah daerah di Jawa Barat, seperti Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Cianjur, Bogor, Depok, Karawang, Cirebon, hingga berakhir di Kota Bandung.
Di Karawang, ribuan warga memadati jalur kirab untuk menyaksikan langsung prosesi budaya yang melibatkan peserta dari 26 kabupaten dan kota di Jawa Barat. Sebelum kirab dimulai, prosesi serah terima Mahkota Binokasih berlangsung di Plaza Pemkab Karawang dan diterima langsung Bupati Karawang Aep Syaepuloh.
Dalam sambutannya, Bupati Aep menyampaikan bahwa kehadiran Mahkota Binokasih menjadi pengingat pentingnya hubungan penuh kasih antara pemimpin dan masyarakat.
“Kehadiran Mahkota Binokasih di sini sebagai pengingat bahwa pemimpin dan rakyatnya harus diikat oleh rasa kasih. Semoga ini menjadi awal dari Karawang yang lebih unggul, makmur, dan selalu dalam lindungan-Nya,” ujar Aep dalam sambutannya.
Ia juga menegaskan, kirab budaya ini memiliki makna filosofis yang mendalam. “Kemajuan daerah tidak boleh membuat masyarakat kehilangan akar budaya serta identitas leluhur Sunda yang diwariskan turun-temurun,” kata Bupati Aep.
Sepanjang jalan, suasana kirab terasa semarak sekaligus sakral. Ribuan masyarakat tampak antusias menyambut arak-arakan Mahkota Binokasih, simbol bersejarah peninggalan Kerajaan Sunda yang menjadi kebanggaan Tanah Pasundan.
Suasana semakin hangat saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, hadir di tengah kerumunan warga. Sebelum memimpin kirab dengan menunggang kuda, ia menyempatkan diri menyalami masyarakat yang memadati kawasan Jalan Ir H Juanda, Kelurahan Nagasari, Karawang.
Didampingi Sekretaris Daerah Jawa Barat, Herman Suyatman, Dedi tampil mengenakan pakaian adat Sunda bersama Bupati Aep Syaepuloh, melambaikan tangan kepada warga di sepanjang rute kirab.
Arak-arakan Mahkota Binokasih kemudian bergerak dari Jalan Ir H Juanda menuju Jalan Arif Rahman Hakim hingga berakhir di Alun-Alun Karawang. Dedi Mulyadi memimpin rombongan bersama Bupati Aep Syaepuloh yang juga menunggang kuda di barisan depan kirab budaya tersebut.
Kehadiran kedua pemimpin daerah itu menjadi simbol kuat sinergi antara pemerintah provinsi dan daerah dalam menjaga budaya Sunda tetap hidup di tengah arus modernisasi. Dengan mengenakan busana adat Sunda lengkap, Bupati Aep beberapa kali tampak melambaikan tangan kepada warga yang menyambut kirab dengan penuh antusias.
