KARAWANG,- Di sudut lahan sawah seluas 1,7 hektare milik Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Karawang, beberapa warga binaan tampak sibuk memeriksa tanaman padi yang mulai menguning. Sebagian lainnya subuk di ruang penetasan telur ayam, sementara suara kambing dan sapi terdengar bersahutan dari area peternakan terpadu.

Di balik kesan kaku sebuah lembaga pemasyarakatan, aktivitas ketahanan pangan di Lapas Karawang justru menghadirkan suasana yang berbeda. Tempat ini bukan hanya menjadi ruang menjalani hukuman, tetapi juga ruang belajar, bekerja, dan mempersiapkan kehidupan baru.

Kepala Lapas Kelas IIA Karawang, Ma'ruf Prasetyo mengatakan, program ketahanan pangan yang dikembangkan mencakup berbagai sektor, mulai dari pertanian, peternakan hingga perikanan.

“Untuk pelaksanaan ketahanan pangan di antaranya produksi telur, daging ayam, daging sapi, daging domba, perikanan, serta padi yang sudah kami panen. Mudah-mudahan hasilnya bisa kami distribusikan untuk program MBG maupun kegiatan produktif lainnya,” ujarnya, Senin, 25 Mei 2026.

Program itu bukan sekadar mengejar hasil panen atau produksi ternak. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan kemandirian bagi warga binaan yang tengah menjalani program asimilasi.

Di area peternakan, warga binaan belajar mengenal berbagai jenis usaha, mulai dari ayam KOB, ayam petelur, penggemukan sapi, peternakan domba, hingga penetasan telur atau DOC. Sementara di sektor pertanian, mereka dilibatkan langsung dalam proses pengolahan sawah hingga panen.

Menurut Ma’ruf, konsep peternakan terpadu sengaja dibangun agar para warga binaan memiliki pengalaman kerja nyata sebelum kembali ke tengah masyarakat.

“Melalui peternakan terpadu ini kami mempersiapkan pos-pos kerja bagi warga binaan asimilasi untuk mengenal peternakan ayam KOB, ayam petelur, peternakan domba, penggemukan sapi, penetasan telur atau DOC, perikanan, hingga pertanian sawah,” jelasnya.

Bagi sebagian warga binaan, aktivitas tersebut menjadi pengalaman baru yang memberi harapan tentang kehidupan setelah bebas nanti. Dari balik tembok lapas, mereka belajar tentang tanggung jawab, keterampilan, dan cara membangun kehidupan yang lebih baik.

Saat ini, sebanyak 20 warga binaan mengikuti program asimilasi ketahanan pangan setelah dinyatakan memenuhi syarat melalui sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP). Program itu akan terus berjalan hingga mereka memperoleh Surat Keputusan Pembebasan Bersyarat.

Di tengah aktivitas memberi pakan ternak dan mengolah sawah, tersimpan harapan sederhana. Bahwa ketika masa pidana berakhir, mereka tidak kembali dengan tangan kosong, melainkan membawa keterampilan dan peluang untuk memulai hidup baru. (Teguh)