Polisi mendapati sebuah truk parkir di badan jalan, hingga kemudian mengungkap truk tersebut diduga melakukan penyelewengan solar bersubsidi dengan omset hingga Rp 83 juta.

KARAWANG – Sebuah mobil truck fuso diamankan lantaran diduga melakukan penyelewengan bahan bakar minyak bersubsidi. Truk diketahui telah memodifikasi pada bagian tangki solarnya, sehingga dapat menampung hingga 3.500 liter solar. Pada umumnya truk itu hanya mampu menampung 200 liter solar. Diduga, mobil itu melakukan penyelewengan bahan bakar minyak bersubsidi dengan omset hingga Rp 80 juta dalam sekali beroperasi. Kini supir telah ditahan pihak kepolisian. 

Kejadian bermula saat Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Karawang melaksanakan patroli penertiban parkir liar, pada Rabu 6 Mei 2026. Hingga kemudian, di Bundaran Charles, Jalan Lingkar Warungbambu-Tanjungpura, Karawang, petugas mendapati sebuah kendaraan yang terparkir di badan jalan. 

Truk bernopol B 9388 PAD itu saat diperiksa tidak memiliki kesesuaian dokumen identitas kendaraan. Pemeriksaan kemudian berlanjut pada fisik kendaraan, dan didapati tangki bahan bakar minyak truk dimodifikasi hingga mampu menampung 3.500 liter solar. Idealnya, truk jenis fuso itu hanya mampu menampung maksimal 200 liter saja. 

Kapolres Karawang, AKBP Fiki N. Ardiansyah mengatakan, guna memastikan penanganan yang komprehensif, kendaraan beserta pengemudi dan barang yang ditemukan diamankan dan kini sedang dalam penanganan Satuan Reskrim Polres Karawang. Kapolres menegaskan, supir truk sudah ditetapkan sebagai tersangka.  

Dalam prakteknya, truk tersebut diduga belanja solar bersubsidi dari satu SPBU ke SPBU yang lain, hingga terkumpul 3.500 liter solar. Solar bersubsidi itu diduga dijual untuk kepentingan industri. Seperti diketahui, selisih antara solar bersubsidi cukup signifikan.

Solar bersubsidi dibeli Rp 6.800. Sedangan harga jual solar industri yakni Rp 30.550. Terdapat selisih harga Rp 23.750. 

Jika solar bersubsidi itu dijual senilai harga solar industri, maka keuntungan dari selisih harga itu mencapai Rp 83 juta untuk 3.500 liter solar dalam sekali beroperasi. (Teguh Purwahandaka)