KARAWANG,- Puluhan mahasiswa Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) menggelar aksi menuntut penyediaan ruang terbuka hijau dan perbaikan infrastruktur kampus, Rabu (22/04/2026).
Poster besar bertulis Unsika Diperingati Hari Bumi, serta gerobak sampah rusak milik Unsika ditempatkan di halaman Gedung Rektorat H Opon Sopandji. Hal ini dilakukan sebagai pesan simbolik bahwa Unsika belum benar-benar tuntas dalam menangani masalah lingkungan di kampus.
Wakil Rektor 2 Unsika, Dr. Dede Jajang Suyaman, S.E., M.M., dan Wakil Rektor 3 Unsika, Dr. H. Amirudin, Drs., M.Pd.I., beserta staff lantas menemui dan berdialog dengan mahasiswa setelah dituntut keluar untuk menemui massa.
Menurut peserta aksi yang tergabung dalam Aliansi Keluarga Besar Mahasiswa Unsika, aksi itu digelar bertepatan dengan momentum Peringatan Hari Bumi. Mahasiswa berharap, kedepan Unsika menjadi ruang aman, nyaman, dan elok dilihat mata. Sebab realitasnya, kampus Unsika krisis ruang terbuka hijau, kumuh, dan rawan banjir.
"Estitakanya terdegradasi menjadi tempat yang kumuh, bau, rawan banjir, dan mengabaikan hak sehat juga ekologi kampus yang baik," tutur salah satu peserta aksi dalam orasinya.
Dijelaskan lebih lanjut, mahasiswa menuntut perbaikan infrastruktur jalan, perbaikan saluran air, dan rombak pengelolaan sampah dari hulu ke hilir. Selain itu, sediakan ruang terbuka hijau di kampus yang berlokasi di Jalan Ronggowaluyo, Kecamatan Telukjambe Timur, Karawang.
Menanggapi tuntutan mahasiswa, Wakil Rektor 2 Unsika Dr. Dede Jajang Suyaman, S.E., M.M., mengatakan akan menyepakati tuntutan. Jalan, drainase, Mei sampai Agustus mudah-mudahan akan selesai dioerbaiki.
"Terkait ruang terbuka hijau, kita semua sepakat untuk meningkatkan, atau memperbaiki, dan memenuhi tuntutan. Tapi, ada keterbatasan, contohnya keterbatasan lahan. Kampus kita luasnya 37.000, idealnya untuk 4.000 orang. Namun kenyataannya, sekarang ada 9.000 orang," tutur perwakilan Rektorat Unsika dalam dialog bersama mahasiswa.
Aksi yang menggemborkan bahwa Unsika dianggap darurat ekologis dan estetika ini lahir karena keresahan kolektif dari mahasiswa. Wakil rektor kemudian menandatangani kesepahaman terkait tuntutan mahasiswa. (Hadid)
