Di balik deru mesin dan kepulan asap kawasan industri, ada napas alam yang tetap terjaga. Di sanalah, di tengah hiruk pikuk produksi, PT Pupuk Kujang menghadirkan ruang sunyi yang penuh kehidupan, Taman Kehati.

Hamparan hijau seluas 120 hektare itu bukan sekadar ruang terbuka. Ia adalah rumah bagi beragam flora dan fauna, sebuah oase yang tumbuh di tengah lanskap industri. Pepohonan menjulang, suara burung bersahutan, dan sesekali hembusan angin membawa aroma tanah yang basah, kontras dengan dunia di sekelilingnya.

Dari tempat inilah, lahir sebuah ajakan sederhana namun bermakna: mengabadikan harmoni. Melalui kompetisi foto dan video bertajuk Lensa Kehati, Pupuk Kujang mengundang siapa saja, mulai dari fotografer, kreator konten, mahasiswa, hingga pegiat lingkungan, untuk menangkap cerita yang tersembunyi di balik rimbunnya hutan kecil itu. 

Tahun ini, tema yang diusung terasa puitis, Harmoni Lestari: Nafas Alam di Tengah Industri. Bagi Kasmadi, VP K3LH Pupuk Kujang, derasnya arus konten digital justru menjadi peluang. Bukan sekadar ruang ekspresi, tetapi juga medium untuk menyuarakan pesan konservasi. 

“Kami ingin menjembatani kreativitas dengan kepedulian terhadap alam, lewat karya-karya yang menginspirasi,” ujarnya.

April, yang identik dengan peringatan Hari Bumi, menjadi momentum yang tepat. Di bulan ini, kamera bukan hanya alat dokumentasi, melainkan juga jendela untuk melihat ulang hubungan manusia dengan alam.

Di dalam Taman Kehati, setiap sudut menyimpan cerita. Seekor burung yang hinggap di dahan tua, cahaya matahari yang menembus celah daun, hingga detail kecil kehidupan liar yang kerap luput dari perhatian. Semua menjadi objek yang menunggu untuk ditemukan, dan diceritakan ulang.

Menariknya, kawasan ini bukan hutan biasa. Ia disebut sebagai satu-satunya hutan alami yang berada di dalam kawasan industri di Jawa Barat. Keberadaannya bahkan telah ditetapkan sebagai kawasan pencadangan hayati melalui keputusan resmi pemerintah daerah. Sebuah komitmen yang menunjukkan bahwa industri dan konservasi bukan dua hal yang harus saling meniadakan.

Kompetisi Lensa Kehati sendiri dibuka dalam dua kategori, umum dan internal. Ini membuka ruang kolaborasi antara masyarakat luas dan insan perusahaan untuk sama-sama melihat, merasakan, dan mengapresiasi alam dengan cara yang berbeda.

Hadiah puluhan juta rupiah memang menjadi daya tarik. Namun lebih dari itu, lomba ini menawarkan sesuatu yang lebih dalam, kesempatan untuk berhenti sejenak, menatap alam, dan menyadari bahwa kehidupan tetap berdenyut—bahkan di tempat yang tak terduga. Barangkali, di balik setiap bidikan kamera, tersimpan harapan sederhana: agar harmoni itu tak hanya diabadikan, tetapi juga terus dijaga. (Adv)