Pengendara sepeda motor tersenyum lebar menerima takjil dari Kepala Lapas Kelas IIA Karawang, Christo Toar.

KARAWANG,-- Menjelang azan magrib, arus kendaraan di jalan depan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Karawang masih ramai. Sebagian pengendara terlihat terburu-buru, mengejar waktu agar bisa tiba di rumah sebelum berbuka puasa.

Di tepi jalan itu, beberapa petugas lapas berdiri sambil membawa kantong-kantong berisi takjil. Satu per satu pengendara yang melintas diberi paket kecil berisi hidangan pembuka puasa. Senyum singkat, ucapan terima kasih, lalu kendaraan kembali melaju.

Pada Selasa sore, 10 Maret 2026, sekitar 200 paket takjil dibagikan kepada masyarakat yang melintas di depan lapas. Kegiatan sederhana itu menjadi bagian dari cara Lapas Karawang merayakan Ramadan dengan berbagi kepada warga sekitar.

Kepala Lapas Kelas IIA Karawang, Christo Toar, mengatakan kegiatan tersebut memang ditujukan bagi mereka yang masih berada di perjalanan saat waktu berbuka tiba. Menariknya, sebagian isi paket takjil itu berasal dari tangan para warga binaan sendiri. Roti dan sop buah yang dibagikan kepada masyarakat merupakan hasil olahan mereka di dalam lapas. Bagi para warga binaan, kegiatan ini bukan sekadar memasak, tetapi juga bagian dari proses belajar dan memperbaiki diri.

Di balik tembok tinggi lapas, suasana Ramadan juga terasa melalui berbagai kegiatan keagamaan. Setiap hari, masjid lapas menjadi tempat berkumpulnya warga binaan yang mengikuti kelas pesantren dan pengajian.

Kegiatan tersebut menjadi ruang pembinaan spiritual bagi para warga binaan selama bulan suci. Mereka belajar mengaji, mendengarkan tausiah, dan menjalani berbagai kegiatan ibadah yang diharapkan mampu membentuk perubahan dalam diri mereka.

Christo berharap Ramadan dapat menjadi momentum penting bagi para warga binaan untuk menata kembali hidup mereka. “Harapan kami sederhana, mereka bisa kembali mendekatkan diri kepada Tuhan dan benar-benar bertaubat. Ketika nanti kembali ke masyarakat, mereka tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama,” katanya.

Pembinaan keagamaan di lapas juga tidak hanya diperuntukkan bagi warga binaan muslim. Mereka yang beragama lain tetap difasilitasi untuk menjalankan kegiatan ibadah sesuai keyakinan masing-masing. Warga binaan beragama Buddha mengikuti kegiatan di wihara, sementara yang beragama Kristen beribadah di gereja yang tersedia di lingkungan lapas.

Tak hanya berbagi takjil, dalam waktu dekat Lapas Karawang juga berencana menyalurkan bantuan sosial kepada warga sekitar. Sekitar 200 paket sembako berisi beras, minyak goreng, dan telur akan dibagikan kepada warga Desa Warung Bambu pada Jumat mendatang.

Sementara itu, menjelang Hari Raya Idulfitri, pihak lapas juga telah mengusulkan sekitar 840 warga binaan untuk mendapatkan remisi atau pengurangan masa tahanan. Usulan tersebut kini masih menunggu keputusan dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.

Bagi sebagian orang, lapas mungkin identik dengan hukuman dan pembatasan. Namun di bulan Ramadan ini, dari balik tembok tinggi itu juga mengalir cerita lain tentang pembinaan, harapan baru, dan upaya untuk kembali menjadi bagian yang lebih baik dari masyarakat. (Teguh Purwahandaka)